Unsur Instrinsik Novel Layar Terkembang

Judul Novel : Layar Terkembang
Pengarang : Sutan Takdir Ali Jahbana

Unsur Instrinsik :


Unsur Instrinsik penggalan novel “Layar Terkembang” karya Sutan Takdi Alisjahbanda adalah sebagai berikut :
1.         Tema
Melalui novel Layar Terkembang, penulis ini menyampaikan bahwa perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan demikian perempuan akan lebih dari hargai kedudukannya di masyarakat.
2.        Alur yang tergambar pada penggalan novel tidak mencakup keseluruhan, Alur yang ditampilkan adalah bagian perkenalan dan konflik.
3.       Latar/Setting, tempat kejadian cerita :
a.        Depan Hotel Des Indes   : Yusuf bertemu lagi dengan Maria dan Tuti ketika pergi ke sekolah
b.        Rumah di Martapura                     : Yusuf berlibur ke rumah orang tuanya
c.        Air Terjun di Dogo                          : Yusuf dan Maria melepas rindu dengan berjalan-jalan dan                           menyatakan cinta pada Maria
d.        Rumah Sakit                                   : Maria dirawat karena penyakit TBC
e.        Rumah Ratna dan Saleh                : Tuti dan Yusuf berlibur
Latar Suasana
Beragam suasana yang digambarkan dalam novel ini. Diantaranya, ketertarikan Yusuf terhadap maria, kebimbangan dan goncangan jiwa yang dialami Tuti, kegembiraan saat Maria dan Yusuf mengikrarkan janji di air terjun dago, serta kesedihan saat Maria harus meninggalkan orang-orang yang dikasihinya.
4.       Tokoh dalam cerita                                :
a.        Yusuf
b.        Maria
c.        Tuti
d.        Ayah
e.        Rukamah
f.         Supomo
g.        Adik Supomo
h.        Ratna
i.         Saleh
j.         Dokter

5.       Sudut pandang pencerita, orang ketiga serba tahu.
6.       Gaya pengarang, penulis sangat pandai menggambarkan situasi salah satu tokoh perempuan yang harus memiliki pengetahuan dan berjuang menyetarakan kedudukannya dengan kaum lelaki. Penulis memaparkan dengan cermat situasi dimana sang tokoh wanita mengalami kegundahan dalam diri sendiri tentang kerinduan tokoh dengan rasa cinta. Namun, tokoh digambarkan tidak menjadikan kerinduan terhadap rasa rindunya tersebut menjadi alasan dengan mudah menerima laki-laki yang menaruh hati padanya. Sekali lagi penulis menggambarkan bahwa wanita harus memiliki pengetahuan bukan mengandalkan kebimbangan hati. Kebulatan tekad dalam melawan kegundahan hati ahrya menyatukan tokoh dengan kekasih sejatinya dalam ikatan pernikahan.

Tidak ada komentar: