Makalah tentang Pencemaran Lingkungan



KATA PENGANTAR

          Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam, yang karena pertolongan-Nya saya dapat menyelesaikan makalah Biologi yang berjudul : Ancaman Limbah Terhadap Biota Laut di Sekitar Muara”
          Karya ini selain dimaksudkan untuk tugas juga untuk menggugah kepedulian kita semua, untuk menanamkan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar masing-masing. Makalah ini berisi referensi-referensi dari buku-buku dan internet.
          Tidak ada gading yang tak retak, oleh karenanya saya membuka kesempatan untuk menyampaikan kritik atau saran yang kontrusif dari para pembaca dan pemerhati lingkungan. Tidak lupa saya ucapankan juga terima kasih untuk para pembaca yang meluangkan waktunya membaca dan melakukan tindak nyata setelah membaca makalah ini.
          Akhirnya, semoga makalah ini dapat membangkitkan semangat menyelamatkan lingkungan dan bermanfaat untuk kita semua. Amin



Kupang, 28 April 2012          


                   (Penulis)                         
           


Daftar Isi
Kata Pengantar                                                                                                                      1
Daftar Isi                                                                                                                              2
BAB I :           PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang                                                                                         3
B.    Rumusan Masalah                                                                                    4
C.    Pembatasan Masalah                                                                               4
D.   Tujuan dan Manfaat Penulisan                                                                          5
E.    Hipotesis                                                                                                  5
F.    Metode Penelitian                                                                                   6
G.    Sistematika Penulisan                                                                            6
H.   Tinjauan Pustaka                                                                                                6

BAB. II :        ISI
A.   Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Problema Limbah                           7
B.    Jenis Limbah                                                                                            8
C.    Pencemaran Air Laut di Sekitar Muara                                              10
D.   Biota Laut di Sekitar Muara                                                                 11

BAB III :       PENUTUP
A.   Simpulan                                                                                                  12
B.    Saran                                                                                                        13

Daftar Pustaka                                                                                                                     14
Biodata Penulis                                                                                                                      15
           






BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Ternyata sangat sulit mendapatkan referensi tentang pencemaran limbah disekitar muara sungai (estuary). Para peneliti lebih tertarik terhadap lautan, Padahal persoalan limbah di sekitar muasa merupakan hal mutlak bagi kota-kota di sekitar pantai. Sebab muara adalah tujuan aliran sungai, sekaligus menjadi pintu utama pemcemaran di laut.
Rata-rata jumlah sampah di muara setiap seratus meter kawasan, yaitu : seribu limbah plastik, enam puluh dua buah alas kaki dan sebuah kaleng metalik. Sungguh mengejutkan, di kawasan yang tingkat kepadatannya cukup rendah saja rata-rata serupa dengan daerah perkotaan.
Secara rasional, peningkatan jumlah penduduk akan selalu diikuti dengan peningkatan jumlah dan jenis limbah yang dihasilkan. Lebih fatal lagi jika konsentrasi pemukiman penduduk berada sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) tanpa diimbangi kesadaran pengelolaan limbah yang benar.
Apalagi untuk menempuh kawasan muara yang bersih dan bebas dari sampah mesti menemui banyak tantangan. Hasil observasi beberapa penelitian dahulu diketahui bahwa jenis dan kuantitas limbah di sekitar muara sungai sangat melimpah. Sekitar 40 persen muara yang terletak di perkotaan tertutup endapan sampah padat dan lumpur.
Ancaman Sampah Bagi Pengembangan Wisata Bahari di Muara juga menjadi masalah paling serius dalam mengembangkan potensi wisata di Indonesia. Sejumlah kawasan yang berpotensi menjadi kawasan wisata kini tercemari sampah dan limbah industri sehingga wisatawan menjadi enggan untuk datang kembali.
Untuk mengatasi permasalahan lingkungan secara efektif perlunya pengelegasian wewewang secara bertahap kepada pemerintahan daerah dalam pengeleloan dan pemeliharaan muara sehinga kualitas ekosistem tetap terjaga.
Terdorong oleh permasalahan ini, saya ingin menguraikan tentang ancaman limbah terhadap biota laut di sekitar muara.






B.  Rumusan Masalah

            Ada beberapa permasalahan yang akan dikaji dalam makalah ini, yaitu :
1.     Apa sajakah jenis limbah di sekitar muara?
2.    Bagaimana tingkat pencemaran laut di sekitar muara?
3.    Apakah pengaruh pencemaran tersebut terhadap biota laut di sekitar muara?
     
C.  Pembatasan Masalah

            Agar isi dari masalah tidak merambah ke hal-hal yang tidak diperlukan, saya membatasi permasalahan lebih tajam dengan batasan-batasan sebagai berikut :
Yang dimaksud dalam karya tulis ini dengan :
1.     Ancaman adalah benda atau zat asing yang berpotensi merusak kualitas air sehingga tidak layak lagi bagi kehidupan biota laut di dalamnya.
2.    Limbah adalah air sisa. Dalam ini dimaksudkan air sisa yang berasal dari rumah tangga, industri kecil, rumah sakit baik yang berupa cairan atau benda padat yang mencair dan larut di air sungai.
3.    Biota laut adalah jumlah populasi hewan dan tumbuhan di suatu kawasan laut
4.    Muara sungai (estuary) adalah daerah yang meliputi perpaduan air laut dan darat berbentuk melebar seperti corong.











D.  Tujuan dan Manfaat Penulisan
1.     Tujuan
a.    Umum
Ø  Mengetahui jenis-jenis limbah di sekitar muara
Ø  Mengetahui tingkat pencemaran air laut di sekitar muara
Ø  Mengetahui pengaruh pencemaran tersebut terdapat biota laut di sekitar muara
Ø  Memberikan informasi kepada pihak untuk bertindak secara tepat dan mengantisipasi kerusakan ekosistem
b.    Khusus
Ø  Dijadikan referensi pengajaran untuk guru biologi dan mengembangkan profesionalisme diri sebagai pendidik yang berwawasan lingkungan
2.    Manfaat
a.    Sebagai pertimbangan dalam upaya mereformasi kebijakan dalam penataan sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan laut agar lebih bersih dan nyaman
b.    Mendorong terwujudnya daerah lautan yang bersih
c.    Dapat dijadikan bahan literature bagi pendidikan lingkungan hidup


E.  Hipotesis
1.  Rumusan Masalah : Apakah pengaruh pencemaran tersebut terhadap biota laut di                                     sekitar muara?
Variabel bebas    : Limbah
Variabel terikat  : Biota laut
Hipotesis nol       : Tidak ada pengaruh limbah terhadap biota laut di muara
Hipotesis  alternatif : Ada pengaruh limbah terhadapat biota laut di muara
2.    Rumusan Masalah            : Bagaimana tingkat pencemaran laut di sekitar muara?
Variabel bebas    : Pencemaran
Variabel terikat  : Muara
Hipotesis nol        : Tidak ada tingkat pencemaran laut di muara
Hipotesis alternatif : Ada tingkat pencemaran di muara






F.  Metode Penelitian
Karya ilmiah ini mengulas tentang latar belakang, keadaan yang sebenarnya serta usaha dengan membuka berbagai buku pengetahuan sehingga menemukan dasar-dasar serta langkah-langkah perbaikan bagi aspek lingkungan. Dengan demikian karya tulis ini termasuk karya tulis penelitian kasus (case study).
Karya ini menekankan pada metode penelitian pustaka atau perpustakaan (library research) sebab kajian literatur sangat berperan penting dalam memandu pembahasan dan penulisan karya ilmiah ini.

G.  Sistematika Penulis
I.    Bab I              : Pendahuluan, terdiri dari (a) Latar Belakang; (b) Rumusan Masalah;                                                (c) Pembatasan Masalah; (d) Tujuan dan Manfaat penulisan;                                                  (e) Hipotesis (f) Metode Penelitian (g)Sistematika Penulisan
(h) Tinjauan Pustaka
II. Bab II             :
a.    Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Problema Limbah
b.    Jenis Limbah
c.    Pencemaran Air Laut di Sekitar Limbah
d.    Biota Laut di Sekitar Muara

III. Bab III         : Penutup, terdiri dari (a) Kesimpulan; (b) Saran (c) Daftar Pustaka

H.  Tinjauan Pustaka
Dasar teori yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini diperoleh dari buku contoh karya tulis Pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup, artikel ilmiah dari web Forum UPI, Makalah Ekologi, dalam Ilmu Pengetahuan Populer Jilid 5 Glorier International Inc (Schultz Beth) dan hasil pencarian (browsing) di internet www.google.com dan www.wikipedia.com.







BAB II
ISI

A.  Daerah Aliran Sungai dan Problema Limbah
   Ada pepatah mengatakan : “Tidak ada asap kalau tidak ada api”. Dengan melimpah limbah di sekitar muara Sungai, berarti ada juga yang menjadi sumbernya. Yang paling mendesak untuk dilakukan sekarang adalah pencegahan yang dimulai dengan mengadakan diagnose terhadap sumber-sumber limbah.
            Dalam karya ilmiah ini DAS (Daerah Aliran Sungai) dibagi menjadi 5 zona dengan menggunakan perkiraan Parameter tingkat kontribusi perzona. Parameter tingkat kontribusi perzona adalah pertimbangan panjang lokasi, jumlah dan tingkatan kepadatan oenduduk, serta jauh dekatnya zona terdapat Tempat Pembuangan sampah Sementara (TPS)
Ada 5 zona aliran sungai yaitu :
Ø  Zona Hilir ( 0 – 300  meter dari muara)
Ø  Zona Campuran (300 – 650 dari muara) biasanya terdapat perpaduan antara pemukiman penduduk, pertokoan dan perkantoran yang berpotensi membuang limbah sekitar 10% mengingat dekat dengan TPS
Ø  Zona Padat Penduduk rata-rata daerah seperti ini menyumbangkan 10–35% limbah ke sungai
Ø  Zona Sedang Kloofkamp (1250–2.250 meter dari muara) dengan potensi pembuangan limbah 40% karena merupakan pusat kepadatan pemukiman yang penduduknya tidak tetap seperti pedagang, buruh dan pegawai. Zona ini cukup jauh dari TPS.
Ø  Zona Campuran Ajendam (2.250 – 2900 meter dari muara) merupakan daerah yang pada umumnya campuran antara instansi militer, sipil dan rumah sakit serta pemukiman penduduk. Presentasi membuang sampah ke sungai 10%, serta menghasilkan limbah mercuri (Hg) dan virus (dihasilkan oleh rumah sakit)
                        Demikianlah gambaran zonasi pemukiman dan perhitungan penghasilan jumlah limbah secara kasar di sepanjang DAS. Potensi terbesar berada pada Zona Kloofkamp sebesar 40%. Mengingat jarak zona ini jauh dari TPS, serta sebagian besar penduduknya musiman maka harus di priotiaskan upaya untuk mengatasi limbah yang dihasilkan di sana.



B.  Jenis Limbah
     
      Rata-rata volume produksi limbah perkeluarga (KK) perharian adalah satu kantung plastik sedang atau kurang lebih 0,80 meter kubik. Setiap kelurahan yang rata-ratanya berjumlah 15.000 – 20.000 jiwa jika di hitung-hitung maka setiap kelurahan menyumbang kurang lebih 4.000 meter kubik perhari.
      Limbah cair berupa : kotoran manusia dan ternak, detergen, minyak dan mercur (Hg) yang larut dan mengalir ke laut berpotensi menimbulkan pencemaran kimiawi. Pengaruh terbesarnya adalah tingkat keasaman (pH). Menurut Susanto
(pH) air laut yang disukai ikan sebesar 8,2. Limbah padat berupa sampah organik kemungkinan mengalami  proses pelarutan setelah hancur. Namun sampah anorganik berupa relative tetap, mengendap bersama lumpur dan pasir di sekitar muara.
Dalam sebuah muara rata-rata ditemukan sampah organik 98% dengan perincian 79% plastik, 9% karet sintetis, 10 % logam metalik) Sedangkan sampah anorganik hanya berkisar 2% karena kemungkinan sebagian besar hancur sebelum sampai ke muara.
      Dengan meningkatnya kebutuhan hidup tanpa dibarengi kesadaran penanganan sampah tepatnya hanya akan mendatangkan bencana secara berantai bagi ekosistem muara dan laut di sekitarnya.
1.     Tingkat Kesadaran Penduduk
Dalam sebuah survei di dapatkan hasil yang mengejutkan tentang tingkat kesadaran penduduk terhadap keselamatan laut dengan terus mencemari muara yang diperoleh :
a.    Kurang lebih 80 % KK yang berdomisili di DAS membuang sampah setiap hari dan sisanya 2 atau tiga hari sekali
b.    Sebanyak 70 % lebih limbah yang dihasilkan berupa benda padat dan sisanya merupakan benda cair atau dilarutkan dalam air
c.    Hanya 40 % yang memiliki TPS di rumahnya, sementara sisanya tidak
d.    Sebanyak 45% penduduk melakukan pemisahan sampah organik dengan sampah anorganik sebelum di buang, jadi tingkat kesadaran mereka cukup baik.
e.    Sebanyak 55 % melakukan pembakaran sampah sendiri setiap harinya.
f.    Sebanyak 65% terbiasa membuang sampah padat ke sungai, 33% terbiasa membuang sampah cair ke sungai
g.    Sebanyak 40% masih enggan membuang sampah ke TPS. Alasannya karena letak TPS jauh dari pemukiman atau tempat tinggal mereka
h.    Sebanyak 73% memahami membuang sampah akan mencemari air laut sehingga mereka tidak enak hati ketika membuang sampah di laut

2.    Pelayanan Penanganan Sampah
            Meski rata-rata setiap 6 bukan diadakan pengerukan limbah yang mengendap di hilir yang jumlahnya kurang lebih 1.600 meter persegi tetaplah sia-sia. Sebab besarnya volume endapan di sekitar muara sekaun memang sebagai tempat terkonsentrasinya limbah padat juga volume tanah pasir dari anak sungai yang eros kasrena penambangan emas liar. Kegiatan liar tersebut bahkan mengakibatkan pencemaran air laut oleh mercuri (Hg).
            Karena itu, usaha apapun dilakukan tanpa diikuti kesadaran penduduk pasti akan sia-sia. Apalagi kurangnya penyuluhan tentang kebersihan pada warga di sekitar DAS.






















C.  Pencemaran Air Laut di Sekitar Muara
1.     Pencemaran Air Laut
Tingkat pencemaran di laut dapat di ukur melalui 4 parameter yaitu : (a) Parameter Biologi; (b) Parameter Fisika; (c) Parameter Kimia; (d) Parameter Bio Kimia
Dalam makalah ini saya hanya akan membahas tentang metode Parameter Biologi

PARAMETER BIOLOGI
Berbagai jenis sampah rumah tangga yang bercampur dengan lumpur dan air merupakan media terbaik pertumbuhan mikroba. Di dalam sampah terkandung pula kehidupan yang tersusun oleh jamur, bakteri, cacing, virus, mikroorganisme dan serangga.
Menurut parameter biologi tingkat pencemaran air laut didasarkan atas ada atau tidak adanya mikroorganisme tertentu yang dapat bertahan hidup di dalam air tersebut.
Mikroorganisme dibagi menjadi tiga yaitu ; (a) Mikroorganisme air bersih; (b) Mikroorganisme air kotor atau tercemar dan (c) Mikroorganisme yang hidup bebas.
Air laut dapat dikatakan bersih dan layak bagi biota laut apabila di dalamnya hidup Mikroorganisme yang menguntungkan misalnya tubifex, bentos dan plankton sebaliknya dikatakan tidak layak apabila terdapat Mikroorganisme parasit seperti ; cacing pita, E-Coli , dan protozoa parasit.
Di dalam sampah yang terbuang ke muara atau laut terdapat bakteri merugikan yang tidak hanya merusak ekosistem tapi membunuh serta meracuni biota di dalam air sehingga terjadilah pencemaran air laut.










D.  Biota Laut di Sekitar Muara
Muara sebagai lokasi ekstrem dengan tingkatan pencemaran yang tinggi memaksa biota laut untuk menjauh dari muara. Jenis biota laut yang bertahan di Muara populasinya sangat sedikit dan pertumbuhannya tidak sehat yaitu belut darat dan ikan kecil. Ikan Salmon yang terdapat di air ekstrem juga sanat sulit ditemukan disekitar muara kecuali sedang banjir.
Biota laut yang ditemukan dalam jarak 50 m dari muara : Bandeng kecil, belut laut, salmon, dan duri babi.
Biota laut yang ditemukan dalam jarak 100 m dari muara : ikan mubara, salmon, ubur-ubur, duri babi dan bintang laut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bawha tingkat pencemaran yang tinggi disekitar muara telah membawa dampak buruk bagi biota di muara dan laut di sekitarnya. Biota air ekstrem (muara) pun yang seharusnya dapat hidup si sekitar muara harus menyingkir hingga sejauh 100m. Oksigen terlarut telah banyak di serap Mikroorganisme air kotor terutama cacing pita dan E-Coli yang populasinya sangat banyak. Akhirnya kebutuhan biota laut akan oksigen sangat terganggu.
















BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
      Limbah cair berupa : Kotoran manusia dan ternak, detergen, minyak dan mercur (Hg) yang larut dan mengalir ke laut berpotensi menimbulkan pencemaran kimiawi. Pengaruh terbesarnya adalah tingkat keasaman (pH) air laut yang disukai ikan sebesar 8,2.
      Berbagai jenis sampah rumah tangga seperti limbah padat baik organik maupun anorganik yang bercampur dengan lumpur dan air merupakan media terbaik pertumbuhan mikroba, disamping kerugian estetika. Apalagi sampah yang mendominasi adalah sampah Organik yang notabennya sulit diurai yaitu 98% serta 2% lainnya adalah sampah Anorganik.
      Sebagai imbas dari permasalahan tersebut, air laut di sekitar muara tercemar. Mikroorganisme air bersih tidak ditemukan di muara dan baru banyak ditemui pada jarak 100 meter dari muara, sebaliknya Mikroorganisme air tercemar banyak ditemukan di sekitar muara.
      Selain itu terjadi ketidak stabilan pH. Angka 9.0 dibagian muara, 8,33 di 50 meter dari muara dan 8,00 di 100 meter dari muara. Tentu hal ini sangat mengganggu kehidupan ikan laut sebab pH idealnya adalah 8,2.
      Biota air ekstrem (muara) pun yang seharusnya dapat hidup di sekitar muara harus menyingkir hingga sejauh 100 meter itu pun sudah sulit ditemukan. Hal ini disebabkan kadar oksigen terlarut (Disolve Oxygen) di dalam air kecil dan di serap mikroorganisme air kotor. Terutama oleh cacing pita dan E-Coli yang populasinya sangat banyak.











B.  Saran
      Perlindungan DAS dan muara dari limbah rumah tangga hanya dapat dilakukan secara efektif apabila terdapat sangsi yang tegas, sosialisasi yang tepat dengan memberdayakan fungsi RT dan RW di sepanjang DAS.
      Penyediaan Tempat Pembuangan Sampah Sederhana (TPS2) disekitar pemukiman, berupa modifikasi drum-durm bekas, dengan jarak sepuluh rumah satu TPS2. Selanjutnya pengangkutan dari TPS2 ke TPS dilakukan dengan gerobag dengan memberdayakan para pengangguran setempat.
      Muara dan laut sekitar yang tercemar dapat direhabilitasi yaiut dikeruk serta merenovasi kawasan muara sebagai Taman Pemancingan Muara (TPM). Dengan demikian semua warga akan dapat mengambil manfaatnya dan akan berproses kepada rasa ikut memiliki (self of belongingness).
























DAFTAR PUSTAKA

Buku          :

Nurhadi, S.Pd. 2004 Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup dari : Jayapura
Ikawati, Yuni, dkk. 2001. Terumbu Karang di Indonesia, Mapiptek dan Kantor Meneg Ristek : Jakarta
Suryabrata, Sumadi 2002. Metodologi Penelitian, PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta
Syamsuri, Istamar. 2000. Biologi 2000, Jilid 1 A, erlangga : Jakarta

Majalah dan Artikel :
Schultz, Beth. 2002. Ekologi, dalam Ilmu Pengetahuan Popiler Jilid 5, Grolier Internasional Inc.
Susanto, Heru, Ikan Hias Air Laut, Penebaran Swadaya Seri Perikanan

Sumber Umum :

Online Forum Universitas Pendidikan Indonesia



Kritik & Saran silahkan kirim ke alamat:
@ItachiZero_Nol (twitter)



Biodata Penulis

1.     Nama Lengkap                       :
2.    Tempat, tanggal lahir           :
3.    Jenis Kelamin                                    :
4.    Agama                                                :
5.    Alamat Rumah                      






Tidak ada komentar: